PROFIL DESA DAWUHAN SEBAGAI DESA MANDIRI SYARIAH

PENDAHULUAN

Sepintas nampak tidak ada bedanya antara Desa Dawuhan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Apa yang terdapat di desa tersebut juga terdapat di desa lainnya. Namun, bila ditelusuri secara mendalam kelihatan beberapa hal yang menonjol yang merupakan pembeda dengan desa sekililingnya. Memiliki kelompok tani yang pernah menjadi juara 3 tingkat nasional dalam pengelolaan Tebu Rakyat Intensifikasi (TRIS).  Artinya kegiatan pertanian merupakan kegiatan keseharian dari masyarakatnya. Itulah sebabnya maka Desa Dawuhan merupakan salah satu desa yang menyokong kebutuhan akan sayuran di Kabupaten Bondowoso, disamping penghasil utama Padi. Dimusim kemarau, aktifitas pertanian tembakau masih semarak di desa ini, sehingga tidak sedikit para petaninya bekerja sama dengan gudang-gudang tembakau atau pabrik tembakau di Kabupaten Bondowoso dan Jember. Kreasi dalam bidang pertanian ini juga tampak dalam kehidupan pertanian mereka, seperti yang terlihat semarak dalam macam produk pertanian mereka akhir-akhir ini adalah pertanian kedele Idamami. Seperti kita ketahui kedele idamami merupakan salah satu produk yang orientasinya untuk ekspor.

Aktifitas di sektor pertanian sangat memerlukan input, diantaranya adalah sumber daya manusia. Semakin semarak kegiatan sektor pertanian maka semakin besar peluang tenaga kerja untuk digunakan dalam turut berkontrbusi mendukung keberhasilan produksi. Sejalan dengan itu maka tumbuh berkembang aneka kegiatan sampingan yang dihasilkan oleh masyarakatnya. Awalnya tumbuh berkembang industri kerupuk untuk digunakan oleh masyarakat desa sendiri, namun lambat tapi pasti indystri ini terus berkembang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri melainkan untuk memenuhi desa sekitarnya, sehingga petani yang mempunyai kegiatan sampingan sebagai pemilik industri terus bertambah. Sejalan dengan itu pula, industri makanan lainnya juga terus berkembang, seperti aneka kue basah. Karena untuk memenuhi kebutuhan sendiri, disamping untuk memenuhi kebutuhan desa lainnya, maka produksi krupuk dan aneka kue basah ini semakin berkembang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bondowoso akan tetapi pemasarannya sudah mencapai kabupaten lainnya, yakni Kabupaten Jember dan Situbondo. Di Kabupaten Jember dan Situbondo, produk cucur dari desa ini dikenal dengan sebutan “Cucur Debuen”, karena penyebutan “Dawuhan” dalam bahasa madura adalah “Debuen”. Akhir-akhir ini bukan hanya krupuk dan aneka kue basah yang terus berkembang di desa ini, akan tetapi juga ke jenis lainnya, seperti telor asin dan aneka kerajinan meubelair atau kayu.

Masyarakat berproduksi ini tidak mendapat sentuhan dari pemerintah desa, karena dianggap sebagai kegiatan spontan akibat tuntutan kebutuhan. Sejalan dengan terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada tahun 2011, terdapat pemikiran agar produksi desa Dawuhan di inventarisir dan dibina serta dikembangkan oleh BUMDes. Ide ini berasal dari salah satu warganya yang menjadi dosen di Perguruan Tinggi. Gayung bersambut, kemudian dilakukan pertemuan untuk membantu mengembangkan usaha kecil masyarakat ini melalui pengelolaan BUMDes dengan nama “Desa Mandiri Syariah”.

SEJARAH SINGKAT

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa sejarah berdirinya produksi aneka kue dan telor asin di masyarakat Desa Dawuhan merupakan produksi untuk kebutuhan sendiri. Namun, sejalan dengan semakin terbuka peluang untuk dipasarkan di daerah lain serta telah terpenuhinya kebutuhan di desa sendiri, kemudian masyarakat seolah mendapatkan komando dari “bisik-bisik tetangga” akhirnya pemasarannya meluas sampai ke Kabupaten Jember dan Situbondo.

Para Perajin ini mendapat pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso, akan tetapi tidak semua para perajin mendapat kesempatan yang sama karena disamping produk beberapa perajin yang sama persis antara satu perajin dengan perajin lainnya, hasil produksi mereka memiliki kesempatan dipasarkan dengan pangsa pasar yang berbeda. Seolah-olah tersekmentasi, satu perajin untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan desa tetangga, tetapi terdapat beberapa perajin yang meluas sampai ke Kabupaten tetangga. Perajin yang mendapatkan pembinaan intensif ini sebagian besar ditujukan untuk perajin yang memiliki pemasaran sampai ke Kabupaten tetangga sehingga antar perajin memiliki ketrampilan dan kemampuan yang sangat heterogen.

Sejalan dengan berdirinya BUMDes yang diharapkan dapat mengembangan usaha masyarakat, pada sekitar tahun 2011, selanjutnya terdapat pengembangan ide agar BUMDes membantu memasarkan produk masyarakat ini. Mekanisme kerjanya, ada bagian dalam kepenegurusan BUMDes yang ditugasi secara khusus untuk menginvenstrisir kerajinan yang ada di Desa Dawuhan dan diajukan untuk dibina oleh instansi terkait, seperti Dinas Koperasi dan UMKM serta dinas perindustrian dan perdagangan. Dampaknya luar biasa, dinatara sekian pengrajin tersebut terdapat seoarang perajin, yaitu Ibu Suryani mendapat pembinaan secara intensif dari pemerintah sehingga produknya diajukan untuk memperoleh Sertifikat Halal dari MUI Indonesia.

Karena ada rasa semangat ebersamaan untuk maju secara bersama tanpa harus bersaing karena perbedaan sekmentasi pasar, maka kemudian tercetus ide untuk mengumpulkan mereka dalam satu forum. Wadah untuk menampung mereka bukan dalam bentuk “Forum Perajin Desa Dawuhan”, namun kemasannya dalam bentuk kegiatan “kumpulan Sholawatan” yang disamping melaksanakan kegiatan pembacaan sholawat Nabi juga membicarakan bisnis. Forum ini muncul setelah ada kewajiban dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso untuk memajukan BUMDes tahun 2016-an. Sampai saat ini kegiatan sholawatan plus bisnis ini terus berkembang yang awalnya diselenggarakan tiap malam Jumat terakhir tiap bulan sekarang telah diganti menjadi tiap Malam Minggu Legi bertempat di Balai Desa.

Entah dari mana awal idenya, para pengelola dan perajin ini, disamping berharap rejeki dari keuntungan yang diperoleh, juga mereka berharap adanya barokah. Perkembangan ide ini membawa kepada perubahan agar keuntungan sebagaian diserahkan kepada pengelola BUMDes (sebesar 2,5%) untuk diserahkan kepada pihak-pihak yang berhak untuk menerimanya di sekitar masyarakat Desa Dawuhan sendiri. Kegiatan dan mekanisme seperti itulah yang terjadi sampai sekarang di Desa Dawuhan Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso.

Pada tahun 2017, terdapat warga yang berhasil menjadi Sarjana Computer dari Prodi Sistem Informasi Universitas Jember. Keberhasilan ini membawa manfaat diantaranya kegiatan pemasaran produk kerajinan yang berasal dari Desa Dawuhan ini kemudian dapat ditingkatkan dengan metode pemasaran e-comers dan dicantolkan kepada WEB-nya Kabupaten Bondowoso karena pada waktu bersamaan terdapat program kerja sama antara Universitas Jember dengan Kabupaten Bondowoso untuk memasarkan produk Kabupaten Bondowoso melalui e-comers. Artinya, geliat alami yang berasal dari Desa Dawuhan seolah-olah mendapat wadah dari program Pemda Kabupaten Bondowoso sehingga produk Desa Dawuhan  merupakan produk pertama kali yang memanfaatkan program Pemda Bondowoso tersebut.

 

 LIMA ALASAN DESA DAWUHAN BISA DISEBUT DESA BERBASIS SYARIAH

Maraknya kegiatan ekonomi syariah mengundang perhatian banyak institusi terkait untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ekonomi syariah dan desa berbasis ekonomi syariah. Sebenarnya tidak terlepas dari perbedaan antara ekonomi pembangunan konvesnional dan ekonomi pembangunan syariah, selama di suatu daerah terdapat kegiatan yang pada prinsipnya menjalankan nilai-nilai agama, maka desa tersebut dapat digolongkan kepada desa yang berbasis syariah. Sehubungan dengan itu terdapat lima alasan pokok mengapa Desa Dawuhan dapat disebut Desa Berbasis Syariah sebagai berikut :Kegiatan para perajin untuk menghasilkan produk merupakan indikator ketaatan beragama melalui berikhtiar untuk mencari    nafkah sebagaimana dianjurkan dalam agama Islam.

 

  1. Kegiatan para perajin untuk menghasilkan produk merupakan indikator ketaatan beragama melalui berikhtiar untuk mencari nafkah sebagaimana dianjurkan dalam agama Islam.
  2. Kikhlasan untuk membayar zakat 2,5% dari keuntungan merupakan indikator ketaatan beragama dalam menjalankan perintah untuk membayar zakat keuntungan.
  3. Membuat organisasi berbasis pengajian dan pembacaan sholawat merupakan indikator ketaatan beragama, yakni berkumpul di dalam tali Allah dan tidak bercerai berai.
  4. Menyantuni anak yatim dan orang miskin merupakan indikator ketaatan beragama dalam hal memenuhi kewajiban setiap manusia untuk memberikan manfaat bagi manusia yang lainnya “sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya”.
  5. Pembinaan oleh Pemerintahan Desa yang baik merupakan indikator ketaatan beragama dalam rangka memenuhi kewajiban menjadi pemimpin yang ‘adil.

 

PENUTUP

Terdapat Firman Allah SWT dalam Al Quran yang berbunyi “Mayyattaqillaha yaj’al lahu mahroja wayarzuku min haisu la yahtasib wamayyatawaqqal ‘alallah fahuwa hasbuh”. Dalam bahasa Indonesia kurang lebih demikian “Barang siapa bertaqwa kepada Allah SWT maka akan mendapat jalan keluar dari masalah dan akan mendapatkan rejeki dari sesuatu yang tidak terduga dan barang siapa taqwa kepada Allah SWT maka Allah mencukupi segala kabutuhannya”. Mungkin, ayat itulah itulah yang dapat dijadikan sebagai ungkapan untuk mendeskripsikan kondisi di Desa Dawuhan Kecamatan Tenggarang ini karena berdasarkan sejarahnya ternyata ketaqwaanlah yang membawa keberkahan rejeki dan perkembangan usahanya. Semoga hal ini terus berlanjut sehingga lebih banyak masyarakat yang menikmati hasilnya. Amin.

BEBERAPA contoh PRODUK

MASYARAKAT DESA DAWUHAN

1. Pruduk      Produk 2Produk 3

2.  Produk 4Produk 5

3.  Produk 64.  Produk 7Produk 8Produk 9

5.  Produk KayuProduk 10Produk Kayu

6.  Untitled-1Untitled-2Untitled-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *